Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Tangerang mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap maraknya penipuan yang mengatasnamakan customer service palsu dari berbagai perusahaan ternama melalui media sosial. Modus kejahatan ini berpotensi mencuri data pribadi dan menimbulkan kerugian finansial bagi para korban.
Kepala Diskominfo Kota Tangerang Mugiya Wardhany menegaskan, para pelaku kejahatan siber seringkali meniru akun resmi dan menggunakan berbagai platform, mulai dari kolom komentar, grup, hingga pesan pribadi untuk menjerat calon korban.
“Modusnya, pelaku menyebarkan nomor atau akun palsu yang seolah-olah merupakan layanan pelanggan resmi dari perusahaan besar. Mereka biasanya memanfaatkan keluhan atau masalah yang diunggah pengguna di media sosial,” jelas Wardhany.
Diskominfo Kota Tangerang mengimbau masyarakat untuk selalu berhati-hati dan melakukan verifikasi ulang sebelum berinteraksi. Jika Anda mendapati pesan mencurigakan, segera laporkan ke pihak berwajib.
“Masyarakat harus lebih teliti dan selalu pastikan agar menghubungi saluran komunikasi resmi yang tertera di situs web atau aplikasi resmi perusahaan. Jangan pernah memberikan data pribadi kepada pihak yang tidak jelas, sekecil apapun alasannya,” tutup Mugiya.
Untuk melindungi diri dari penipuan, masyarakat diimbau untuk mengenali perbedaan antara akun customer service resmi dan yang palsu. Berikut adalah beberapa ciri yang patut dipelajari dan dipahami:
1. Verifikasi Akun
Akun resmi biasanya memiliki lencana verifikasi (centang biru) pada platform media sosial. Akun palsu seringkali tidak memiliki lencana ini dan hanya meniru nama atau foto profil.
2. Permintaan Data Sensitif
Customer service asli tidak akan pernah meminta data pribadi yang sensitif seperti kata sandi (password), PIN, kode OTP (One-Time Password), atau kode verifikasi lainnya. Permintaan data ini adalah tanda bahaya yang jelas.
3. Bahasa dan Prosedur
Customer service resmi menggunakan bahasa yang formal dan profesional sesuai standar perusahaan. Akun palsu cenderung menggunakan bahasa yang terkesan mendesak, tidak konsisten, dan memaksa pengguna untuk segera mengambil tindakan.
4. Tujuan Komunikasi
Akun resmi akan mengarahkan pengguna ke saluran komunikasi yang aman, seperti email resmi dengan domain perusahaan. Sebaliknya, akun palsu seringkali mengarahkan korban untuk menghubungi nomor WhatsApp pribadi atau mengklik tautan (link) yang mencurigakan.